GBKP RAWAMANGUN

DALAM PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA

KUDUSKANLAH HATIKU TUHAN

Roma 3:23-28

Beginilah firman Tuhan “Bahwasanya malapetaka akan Kutimpakan ke atasmu …. Aku akan mengambil istri-istrimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain.

Karena engkau dengan perbuatanmu sangat menista Tuhan, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati”. Inilah sebahagian akibat dosa yang dilakukan Daud karena dia telah merancang kematian Uria dan mengambil istrinya Betsyeba [Sam. 12:1-25]. Dampak dosa itu sangat luas dan mengerikan, bukan hanya Daud si pelaku menanggung akibatnya tapi istri dan anaknya. Melakukan dosa berarti membuat ancaman bagi orang yang dicintai. Karena itu ketika Nathan menegornya, Daud sangat menyesal dan bertobat, sebab hanya itu cara, tidak ada cara lain, bukan berdalih atau membuat alasan ini atau itu. Dosa telah mengaburkan masa depan, membatalkan banyak sekali sukacita dan kalau menunda-nunda pertobatan sama dengan menunda sukacita sebab Allah mau memberkati anaknya [bd. Kisahayang hilang, Lukas 15:11-32]. Menunda juga ancaman Tuhan mengambil Roh-Nya dari si pendosa [13b], karena belum bertobat akhirnya Tuhan megeraskan hati si pendosa. Daud memohon pengampunan dosanya dengan hisop yaitu semak yang tumbuh di tanah di Palestina berbau harum sebagai alat pemercik [Kel. 12:22] dan alat pentakhiran [Imm. 14:4]. Daud berharap pengampunan yang terdalam menjadi lebih putih dan salju, ketika dosa berkuasa telinga tertutup dari berita sukacita, tulang-tulang telah remuk, tidak berdaya untuk bangkit bersukacita. Melakukan dosa pada awalnya ada senang tapi ujungnya menuju maut kehcuran.

Pertobatan bukan emosi diri tapi kesadaran dan penyesalan yang mendalam akan dosa. Pertobatan perlu kerendahan hati, orang yang tinggi hati, pertoba tidak mendalam tetapi rendah hati membuat seseorang semakin peka terhadap dosanya bahkan dosa yang terkecil. Pertobatan bukan hanya minta ampun tapi pembaharuan hidup, pembaharuan dalam hati dan roh, pada jiwa yang hancur dan pada persembahan hati yang patah dan remuk sebagai korban. Pertobatan sejati ketika manusia kembali kepada Allah dan hidup di dalam Allah dan semuanya terjadi hanya karena kekuatan Allah, kekuatan roh kudusNya. Pertobatan sejati diikuti semangat kerasulan memberitakan kasih Allah dan memuji-muji Allah, melihat masa depan yang penuh ceria dan damai sejahtera melingkupi hidupnya dan orang-orang di sekitarnya.

[ewg]

DENGAR LAGU: MAMRE RAWAMANGUN

Klik disini ===>lebuhlah_yesusmp3

Tinggalkan Balasan

Sekilas Foto

Klik tanda X apabila ingin Play Again–>

Tinggalkan Balasan

MELIHAT YESUS SECARA BERTAHAP

Oleh: Armand Barus

 

 

Bacaan Alkitab: Markus 8:22-26

 

Berbeda dengan penyembuhan orang tuli-gagap sebelumnya (Markus 7:31-37) yang terjadi di luar Galilea, peristiwa penyembuhan orang buta terjadi di Galilea. Peristiwanya terjadi di dalam wilayah Yahudi. Tepatnya di Betsaida yang juga merupakan kampung halaman rasul Petrus. Tuhan Yesus sekarang telah berada kembali di Galilea.

 Ketika berada di Betsaida sekelompok orang membawa seorang buta kepada Yesus. Siapa mereka? Tidak dapat dipastikan. Seperti orang tuli-gagap yang dibawa oleh beberapa orang kepada Yesus (Markus 7:32), demikian juga orang buta ini dibawa oleh beberapa orang kepada Yesus. Mereka tidak sekedar membawanya kepada Yesus. Mereka memohon supaya Tuhan Yesus menyembuhkannya (ayat 22).

Kelihatannya mereka telah mendengar perkataan dan melihat perbuatan Yesus. Mereka tahu bahwa Yesus mampu menyembuhkannya. Tidak heran jika orang banyak membawa orang buta kepada Yesus dengan satu tujuan agar Yesus menyembuhkannya. Siapa orang buta? Seperti yang lainnya, namanya tidak diberi tahukan. Orang buta ini tidak dilahirkan dalam keadaan buta. Jika ia buta sejak lahir tentu dia tidak memiliki persepsi tentang pohon dan manusia (ayat 24). Jika buta sejak lahir ia tidak akan pernah tahu bentuk dan rupa pohon. Kita tidak tahu pada usia berapa ia menjadi buta dan apa yang menyebabkannya buta. Orang buta ini kelihatan bukan penduduk desa Betsaida. Jika ia penduduk Betsaida maka perintah Yesus untuk tidak masuk ke desa Betsaida menjadi sulit dimengerti (ayat 26). Orang buta ini jelas berasal dari luar desa Betsaida.

 ristiwa celiknya mata orang buta ini tidak dapat dilepaskan dengan narasi sebelumnya (Markus 8:14-21) dan narasi berikutnya (Markus 8:27-30). Khususnya pertanyaan Yesus ‘Belum mengertikah kamu?’ kepada murid-murid-Nya dalam Markus 8:21. Yesus memperingatkan murid-murid akan bahaya ragi orang Farisi dan ragi Herodes. Metafora ragi menunjuk pada pengaruh. Yesus memperingatkan bahaya pengaruh Farisi dan Herodes. Pada dasarnya ragi orang Farisi dan ragi Herodes memiliki persamaan mendasar. Keduanya menggambarkan penolakan terhadap Yesus. Hakikat penolakan adalah ketidak percayaan. Orang Farisi dan Herodes tidak mau percaya pada Yesus. Mereka tidak percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Jika Yesus bertanya ‘Belum mengertikah kamu?’, tidak berarti murid-murid tidak percaya pada Yesus. Kalimat tanya ini mengungkapkan proses. Percaya pada Yesus adalah suatu proses. Di dalam proses tersebut mudah sekali orang jatuh dan menjadi tidak percaya. Di samping itu, pertanyaan tersebut menggambarkan pengharapan bahwa pada waktunya murid-murid akan mengerti. Murid-murid tidak buta. Sekarang mereka, seperti orang buta ini, hanya samar-samar melihat Yesus. Agar murid-murid dapat melihat jelas perlu sentuhan tangan Yesus. Sama seperti orang buta yang disembuhkan, Yesus tidak akan berhenti bertindak sampai murid-murid melihat dengan jelas. Tidak mungkin melihat Yesus dengan jelas tanpa ketergantungan pada-Nya. Murid-murid juga perlu sentuhan kedua agar dapat melihat Yesus dengan jelas. Tidak heran jika narasi penyembuhan orang buta yang melihat bertahap diletakkan di antara narasi ketidak mengertian murid-murid (Markus 8:14-20) dan pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias (Markus 8:27-30). Dari keadaan belum mengerti hingga mengerti siapa Yesus perlu sentuhan tangan Yesus. Dari melihat samar-samar siapa Yesus hingga melihat Yesus sebagai Mesias perlu campur tangan Yesus yang terus menerus. 

Melihat Yesus memerlukan tahapan. Ketika pertama sekali percaya pada Yesus, kita mungkin hanya samar-samar mengenal siapa Yesus. Setelah lama mengikut Yesus tentulah penglihatan kita semakin jelas melihat siapa Yesus. Tetapi jika tidak ada perubahan antara penglihatan pertama dan penglihatan sekarang tentu ada salah dalam mata rohani kita. Atau jika tidak mengalami penglihatan bertahap tentu kita harus memeriksa mata rohani kita. Kita telah lama aktif dalam pelayanan di gereja bahkan mungkin sejak masih mahasiswa dahulu. Namun pengenalan kita akan siapa Yesus tidak jelas. Kita masih samar-samar melihat Yesus. Pengenalan kita masih seperti ketika saat pertama kita percaya pada Yesus. Semenjak kita pertama percaya pada Yesus hingga puluhan tahun menjadi Kristen, tidak ada yang bertambah. Kita masih samar-samar melihat Yesus. Jika tidak ada tahapan penglihatan siapa Yesus, jelas kita perlu campur tangan Yesus. Perlu operasi mata rohani jika masih tidak jelas dan kabur melihat Yesus. Apa yang menghalangi mata rohani kita? Mengapa masih samar-samar melihat Yesus? Mungkin terlalu sibuk dalam aktifitas rohani sehingga tidak sempat untuk mengenal siapa Yesus? Mungkin kita tidak punya waktu untuk membaca Alkitab? Mungkin kita terlalu sibuk berkhotbah sehingga lupa mengenal Yesus lebih dalam lagi?

Melihat Yesus memerlukan tahapan. Dalam hal rohani tidak ada jalan pintas. Di dalam masyarakat kita terbiasa dengan segala sesuatu yang ‘instan’. Kita mau segalanya serba cepat dan mudah. Kita mau makan mie secara instan, minum kopi secara instan. Tidak ada yang salah dengan gaya hidup demikian. Tetapi gaya hidup instan tidak berlaku dalam dunia rohani. Sedang dalam dunia akademis gaya serba instan tidak berlaku. Perlu waktu yang relatif lama untuk menjadi seorang sarjana. Dibutuhkan 4 hingga 5 tahun untuk menyelesaikan 150-160 SKS. Pohon pisang juga perlu waktu untuk menghasilkan buah. Tidak ada pisang instan. Sekarang ditanam beberapa menit kemudian segera berbuah. Jika dalam dunia akademis dan pertanian gaya hidup instan tidak berlaku, apalagi dalam dunia rohani. Perlu waktu dalam pertumbuhan rohani. Berapa lama? Apakah beberapa bulan seperti pisang? Apakah beberapa tahun seperti sarjana? Perlu waktu seumur hidup untuk bertumbuh secara rohani. Bahkan sebenarnya perlu waktu yang tak terhingga untuk mengenal siapa Yesus. Jadi jangan berpikir bahwa pertumbuhan rohani hanya berlangsung ketika masih sebagai mahasiswa/i. Ketika sudah menjadi sarjana dianggap sebagai waktu untuk ‘menuai’. Sehingga sering kali terjadi seorang mahasiswa/i yang sudah sarjana merasa tidak perlu lagi ikut pembinaan dan persekutuan gereja. Mereka merasa tidak perlu lagi membaca Alkitab. Bahkan mereka merasa tidak perlu lagi ke gereja. Ringkasnya mereka lupa bahwa perlu tahapan melihat dan mengenal Yesus

Akhirnya, seberapa dalamkah engkau sekarang melihat dan mengenal Yesus? Masihkah engkau belum mengerti juga? Mengerti bahwa engkau belum mengerti? Pertanyaan Yesus kepada murid-murid masih tetap berlaku untuk kita saat ini. ‘Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini’ (Markus 8:29).

 

 

Tinggalkan Balasan